Pemanfaatan Portable Biogas untuk Memenuhi Kebutuhan Energi Ramah Lingkungan



Energi Murah Ramah Pemanfaatan Kotoran Manusia dan Limbah Rumah Tangga dengan Portabel Bio Gas

Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar di Asia. Indonesia sendiri masih tergolong sebagai negara berkembang dengan berbagai permasalahan yang melekat. Mulai dari sumber daya manusia hingga sumber daya alamnya. Dimana setiap hari terjadi ketimpangan antara angka kelahiran dengan kematian. Sehingga, timbul berbagai permasalahan salah satunya adalah kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk tersebut bagaikan dua mata sisi uang. Di satu sisi dapat memberikan bonus demografi pada suatu negara, tetapi disisi lain dapat menimbulkan masalah salah satunya penggunaan sumber daya alam yang berlebihan. Ditengah krisis energi saat ini timbul pemikiran untuk penganekaragaman energi (diversifikasi energi)dengan mengembangkan sumber energi lain sebagai energi alternatif untukpenyediaan konsumsi energi domestik.
Indonesia memiliki beranekaragam sumber daya energi, sepertiminyak dan gas bumi, panas bumi (geothermal), batubara, gambut, energi air, biogas,biomassa, matahari, angin, gelombang laut dan lain lain. Potensi sumber daya energitersebut tersebar diseluruh daerah diIndonesia menurut karekteristik dankondisi geologinya. Secara umum dalam pemakaian/konsumsi energi di Indonesiamasih mengandalkan dan bergantung pada sumber daya energi minyak bumi. Kondisireal menunjukkan bahwa sumber daya energi minyak bumi akan habis dan memilikiketerbatasan baik persediaan dalam bentuk cadangannya.

Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 238,5 juta pada tahun 2010 menjadi 305,6 juta pada tahun 2035. Walaupun demikian, pertumbuhan rata-rata per tahun penduduk Indonesia selama periode 2010-2035 laju pertumbuhan penduduk turun dari 1,38 persen menjadi 0,62 persen per tahun. Turunnya laju pertumbuhan ini ditentukan oleh turunnya tingkat kelahiran dan kematian. Tingkat penurunan karena kelahiran lebih cepat daripada tingkat penurunan karena kematian(Badan Pusat Statistik, 2013).
Banyaknya tingkat pertumbuhan penduduk yang tidak sebanding dengan sumber energi mengakibatkan krisis energi.Konsumsi energi akhir perkapita tahun 2015 mencapai 0,018 terajoule atau setara 4.887 KWh listrik. Apabila dikonversi kedalam nilai rupiah, konsumsi energi akhir perkapita di Indonesia tahun 2015 mencapai 7,027. 506 rupiah atau sekitar 14,4 % dari PDB perkapita. Produksi energi primer perkapita di Indonesia tahun 2015 mencapai 26.157.939 rupiah atau sekitar 15,8% dari PDB per kapita (Badan Pusat Statistik, 2016).
Perbandingan energi dengan jumlah penduduk cukup signifikan. Meningkatnya jumlah penduduk selaras dengan meningkatnya energi yang dibutuhkan dan melimpahnya limbah yang dikeluarkan manusia. Sebagian besar energi yang digunakan di Indonesia masih menedepankan energi minyak bumi.Energi minyak bumi termasuk energi yang tidak dapat diperbaharui. Oleh karena itu, untuk mengatasi krisis energi lebih mengedepankan penggunaan dan pemanfaatan energi alternatif. Indonesiamemiliki potensi yang besar adalam pemanfaatan energi alternatif. Namun, penggelolaan energi alternatif di Indonesia masih sangat minim dikarenakan pengelolaannya membutuhkan biaya yang besar sedangkan teknologi kurang memadai.
Dengan semakin meningkatnya kebutuhan hidup dan peningkatan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta semakin berkurangnya sumber daya alam yang tidak terbarukan, maka perlu dicarikan suatu jalan alternatif guna mengganti sumber daya energi tersebut dengan sumber daya energi yang terbarukan. Kebutuhan energi tersebut sebenarnya tidak lain adalah energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan dan mendistribusikan secara merata sarana-sarana pemenuhan kebutuhan pokok manusia. Terutama yang tinggal di perdesaan, kebutuhan energi rumah tangga masih menjadi persoalan yang harus dicarikan jalan keluarnya. Permasalahan kebutuhan energi perdesaan dapat diatasi dengan menggunakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, murah, dan mudah diperoleh dari lingkungan sekitar dan bersifat dapat diperbaharui. Salah satu energi ramah lingkungan adalah gas bio yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik akibat aktivitas bakteri anaerob pada lingkungan tanpa oksigen bebas.
Jenis Kotoran
Perkiraan produksi biogas (m3) per kg kotoran
Sapi/kerbau
0,023-0,04
Babi
0,04-0,059
Unggas
0,065-0,116
Manusia
0,02-0,028
Kuda
0,02-0,035
Domba/Kambing
0,01-0,031
Jerami padi
0,017-0,028
Jerami jagung
0,035-0,048
Rumput
0,028-0,055
Rumput gajah
0,033-0,056
Bagase
0,014-0,019
Sayuran
0,03-0,04
Alga
0,038-0,055
Tabel 1. Perkiraan produksi Biogas dari Beberapa Jenis Kotoran(Suyitno,dkk, 2010:29).
Distribusi energi yang terjangkau, berkelanjutan, bisa diandalkan dan modern untuk semua sangat mudah dinikmati. Terutama penggunaan limbah manusia sebagai bahan utama energi. Diketahui pemanfaatan limbah manusia ( feses ) sebagai sumber energi dalam bentuk biogas dapat menghasilkan gas metana melalui proses fermentasi, dimana gas metana yang dihasilkan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam memproduksi hidrogen dengan proses reforming, sehingga limbah manusia (feses) tersebut yang tadinya merupakan suatu bahan yang tidak berharga dapat dijadikan sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan dan tentu saja penggunaannya akan mengurangi ketergantungan akan pemakaian minyak bumi. Dimana limbah mulai dari sisa makanan hingga feses dapat dinikmati kembali dalam bentuk energi. Seperti bahan bakar untuk memasak, pembangkit listrik maupun bahan bakar untuk kendaraan bermotor.
 Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh bakteri apabila bahan organik mengalami proses fermentasi dalam reaktor (biodigester dalam kondisi anaerob (tanpa udara). Reaktor yang dipergunakan untuk menghasilkan biogas umumnya disebut digester atau biodigester, karena di tempat inilah bakteri tumbuh dengan mencerna bahan-bahan organik. Untuk menghasilkan biogas dalam jumlah dan kualitas tertentu, maka digester perlu diatur suhu, kelembapan, dan tingkat keasaman supaya bakteri dapat berkembang dengan baik. Biogas sendiri merupakan gabungan dari gas metana (CH4) gas (CO2), dan gas lainnya(Suyitno,dkk, 2010:1).
Di Indonesia, pemanfaatan biogas masih terbatas pada bahan bakar kompor untuk memasak. Pemanfaatan biogas untuk kebutuhan tangga ini, beberapa penduduk di Indonesia sudah mampu membuat reaktor biogas sendiri dengan skala kecil. Reaktor biogas (biodigester untuk skala kecil umumnya dibuat dari plastik maupun dari drum. Bahan baku biogas diperoleh dari kotoran sapi dengan jumlah sapi bervariasi dari 3-5 ekor untuk skala kecil(Suyitno,dkk, 2010:1).
Ketertarikan akan sumber energi biogas akhir-akhir ini meningkat. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa cadangan sumber energi fosil semakin berkurang. Salah satu buktinya adalah adanya kebijakan pemerintah dalam konversi minyak tanah ke gas (LPG). Dengan fakta ini sebenarnya beberapa anggota masyarakat yang mempunyai potensi mengolah bahan organik menjadi biogas dapat berperan serta lebih aktif. Manfaatnya adalah masyarakat dapat memperoleh energi yang relatif lebih murah dan lingkungannya juga lebih bersih. Memang, karena biogas dihasilkan dari kotoran sehingga beberapa masyarakat masih canggung untuk menggunakan biogas khususnya untuk memasak(Suyitno,dkk, 2010:1-2).
Biodigester merupakan komponen utama dalam produksi bio- gas. Biodigester merupakan tempat di mana material organik diurai oleh bakteri secara anaerob (tanpa udara menjadi gas CH4 dan CO2. Biodigester harus dirancang rupa sehingga sedemikian proses fermentasi anaerob dapat berjalan baik. Pada umumnya, bio gas dapat terbentuk pada 4-5 hari setelah digester diisi. Produksi bio- gas yang banyak umumnya terjadi pada 20-25 hari dan kemudian produksinya turun jika biodigester tidak diisi kembali Selama proses penguraian secara anaerob, komponen nitrogen berubah menjadi amonia komponen belerang berubah menjadi H2S, dan komponen fosfor berubah menjadi orthophosphates. Beberapa komponen lain seperti kalsium, magnesium, atau sodium berubah menjadi jenis garam (Suyitno,dkk, 2010:13).
Tujuan utamapembuatan unit gas bio pada mulanya adalah untuk pengadaan bahan bakar yang berguna sebagai pengganti bahan bakar minyak atau kayu sehingga pendapatan keluarga menjadi bertambah. Namun belakangan ini bukan itu melainkan untuk memanfaatkan kotoran ternak atau bahan organik lainnya agar dapat digunakan seoptimal mungkin, sehingga tidak menjadi bahan pencemar melainkan menjadi inti mitra usaha pertenakan dan pengembangannya. Gas bio sebagai hasil pertama yang dapat dimanfaatkan untuk pengadaan bahan bakar. Mulanya gas bio hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar lampu gas dan kompor. Selanjutnya dengan perkembangan teknologi gas bio dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin pendingin, mesin penggerak dan mesin pembangkit listrik. Jadi pemanfaatan gas bio lebih multi guna (Junus,1995:77-78).
Pemberdayaanenergi yang terjangkau, bisa diandalkan, berkelanjutan dan modern untuk semua dapat dimulai dari rumah ke rumah. Energi yang terjangkau dikarenakan bahan utama yang digunakan dari limbah manusia dan limbah rumah tangga. Khususnya limbah feses dan limbah-limbah organik seperti, sisa makanan, dedaunan dll. Namun, dalam pembuatan portabel biogas dibutuhkan beberapa biaya. Biaya yang dikeluarkan dapat diminimalkan dengan kerjasama pemerintah maupun perusahaan yang terkait. Portabel biogas menghasilkan energi yang bisa diandalkan dalam menggantikan kompor LPG maupun bahan bakar. Hal ini akan mengurangi penggunaan energi fosil sehingga cadangan energi dapat dipertahankan untuk puluhan tahun kedepan. Pembuatan portabel biogas sebagai salah satu solusi efisiensi energi yang modern untuk semua. Portabel biogas tidak membutuhkan lahan luas, perawatan mudah dengan desain yang elegan. Sehingga sedap dipandang tidak merusak pemandangan.

            Portabel biogas dengan tangki pengurai yang fleksibel, desain minimalis dan menggunakan kerangka berbahan alumunium. Sebagai pendobrak gaya baru dari beberapa model biodigester yang telah ada. Kebanyakan biodigester yang kita kenal bentuknya besar-besar seperti kubah maupun tangki dan bebrapa biodigester berada dalam tanah. Sehingga, ketika terjadi kebocoran maupun kerusakan akan mengalami kesusahan untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, portabel biogas hadir diharapkan mampu sebagai pemberdaya energi yang terjangkau, bisa diandalkan, berkelanjutan dan modern untuk semua.


Komentar